Hati-hati Obat Herbal Juga Bisa Berbahaya Untuk Kesehatan

obat herbal amdu bima 99
madu hitam madu pahit

Madu Bima 99 – Ramuan obat herbal yang diracik dari kulit kayu, buah, bunga, dan akar-akaran wangi telah digunakan sejak zaman nenek moyang untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, peredaran suplemen herbal tidak diatur seketat obat-obatan medis oleh BPOM.

Lalu, apakah obat herbal aman dikonsumsi?

Agar sebuah obat herbal bisa dinyatakan aman, produk tersebut haruslah terlebih dulu dibuktikan secara ilmiah keamanannya. Diantaranya melalui serangkaian uji klinis, antara lain uji toksisitas akut, uji toksisitas sub-akut, uji toksisitas kronik, dan uji teratogenik. Bahaya obat herbal juga harus diuji dosis, cara penggunaan, efektivitas, monitoring efek samping, dan interaksinya dengan senyawa obat lain.

Sayangnya, kebanyakan obat herbal yang beredar di Indonesia tergolong dalam kategori jamu dan OHT (Obat Herbal Terstandar). Keduanya merupakan jenis obat tradisional yang belum terbukti keamanannya. Berdasarkan uji klinik. Khasiat OHT hanya dapat dibuktikan sejauh eksperiman pada hewan lab. Hasil percobaan praklinik inilah yang seringkali dijadikan dasar bahwa bahaya obat herbal dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara itu, jamu yang biasanya menggunakan rebusan kombinasi rempah dan variasi resep turun temurun tidak memiliki dosis dan indikasi yang pasti.

Dr. Peter Canter dan Prof. Edzard Ernst dari Peninsula Medical, dilansir dari The Telegraph, mengungkapkan bahwa sampai sejauh ini bukti klinis kuat yang dapat membuktikan efektivitas jamu dan bahaya obat herbal untuk menyembuhkan penyakit masih sangat terbatas. Dan karena potensi efek samping dicurigai lebih besar dari manfaatnya, kurangnya bukti medis ini dapat diartikan bahwa penggunaan obat herbal tidak direkomendasikan.

Tidak semua orang boleh minum jamu dan obat herbal

Meski terbuat dari bahan alami, semua rempah juga mengandung senyawa kimia yang berpotensi menimbulkan risiko efek samping merugikan. Sebagai contoh, jamu temulawak. Temulawak diklaim ampuh sebagai obat peningkat nafsu makan dan mengatasi sembelit, namun tak banyak yang tahu bahwa temulawak memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati.

Risiko efek samping juga mungkin termasuk dari produk impor yang terkontaminasi dengan bahan kimia. Antara lain pertanian atau organisme asing lain selama proses pembuatan di negara asalnya. Misalnya, obat-obatan herbal yang diragukan kesegaran dan kualitasnya berpotensi mengandung jamur Amanita phaloides yang memproduksi aflatoksin yang bisa merusak hati dan inilah salah satu bahaya obat herbal.

Selain itu, sejumlah suplemen viagra herbal impor asal Cina telah dibuktikan mengandung hingga empat kali lipat dosis campuran senyawa kimia dari obat medis resep. Resep yang biasa digunakan untuk menangani obesitas dan anti-impotensi, yang dapat menyebabkan efek samping serius seperti gangguan jantung dan tekanan darah. Padahal, yang namanya produk suplemen bahaya obat herbal sama sekali tidak boleh mengandung obat sintetik.

Mengonsumsi obat herbal bole-boleh saja jika

Mengonsumsi jamu dan obat-obatan herbal sebagai alternatif pelengkap dari obat sintetik (baik resep maupun nonresep) sebenarnya boleh dilakukan. Bahaya obat herbal racikan berupa rebusan relatif aman untuk dikonsumsi. Karena zat-zat toksik yang mungkin terkandung (misalnya, daun singkong mengandung sianida) sudah mengalami perubahan struktur kimia sehingga aman untuk dikonsumsi. Obat herbal racikan dengan metode lain harus selalu dipertanyakan keamanannya.

Tapi suplemen bahaya obat herbal biasanya baru menampakkan manfaatnya jika dikonsumsi rutin dalam jangka panjang. Karena itu obat herbal sebaiknya hanya dikonsumsi untuk menjaga kesehatan. Selain itu juga untuk pemulihan penyakit, atau menurunkan risiko dari penyakit — bukan untuk menyembuhkan. Untuk menyembuhkan penyakit dibutuhkan obat resep dokter.

Hanya saja, perhatikan dosis dan waktu penggunaan jamu herbal jika Anda sedang menggunakan obat lain. Obat-obatan herbal jangan diminum sebelum obat medis untuk menghindari risiko interaksi senyawa kimia, dan sebaiknya dikonsumsi 1-2 jam setelah obat medis.

Suplemen herbal juga tidak bisa diminum sembarangan karena reaksi tiap orang terhadap obat-obatan bisa berbeda satu sama lain. Meski punya keluhan sama, belum tentu bahaya obat yang herbal ternyata cocok untuk Anda akan memberikan khasiat yang sama pada anak atau tetangga Anda.

Post Author: Madu Pahit