Mengganti Obat Kimia dengan Madu Pahit

Mengganti Obat Kimia dengan Madu Pahit

 

Semakin maju zaman, semakin maju teknologi kesehatan. Tentu harusnya manusia makin sehat. Namun, realitasnya tak begitu: makin beragam penyakit yang mucul. Kenapa demikian? Agaknya, semua itu bermula dari makanan. Saat ini, sulit mencari makanan yang bebas dari zat pengawet, karena penggunaan zat itu merupakan dilema. Bila tak digunakan, makanan cepat busuk. Padahal, makanan itu terkadang perlu disimpan lama. Bila digunakan, ya, efek sampingnya itu: sakit. Dan sakit biasanya bermula dari pencernaan, karena yang pertama kali terganggu oleh kehadiran zat kimia adalah organ pencernaan. Kalau sakit, apa yang dilakukan orang? Tentu berobat alias minum obat. Dari bahan apa obat itu dibuat? Ya, dari bahan-bahan kimia. 

Ada sebuah buku yang berjudul Air. Di dalam buku terbitan Gramedia tahun 2007 lalu itu, pengarangnya mengatakan bahwa pada dasarnya mengonsumsi obat itu adalah memberikan racun ke dalam tubuh kita. Pengarang berkebangsaan Amerika yang juga seorang dokter senior dan rajin melakukan penelitian itu mengatakan bahwa selama ini telah terjadi semacam “kesepakatan” terselubung antara pabrik-pabrik obat raksasa dan para dokter di seluruh dunia, sehingga seorang dokter kadang-kadang begitu “tega” memberikan obat yang ia tahu tak diperlukan, bahkan berbahaya, bagi pasiennya. Pendapat ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Hiromi Shinya dalam bukunya The Miracle of Enzyme. Dalam buku terbitan 2008 itu dokter asal Jepang yang tinggal di Amerika Serikat tersebut mengatakan bahwa mengonsumsi obat berarti membunuh enzim-enzim yang sangat bermanfaat bagi perkembangan dan pemulihan kondisi tubuh. Karena itu, baik kedua pengarang buku itu maupun sejumlah pakar kesehatan modern saat ini bersepakat untuk menganjurkan kepada penderita penyakit untuk beralih ke terapi herbal plus mengatur pola hidup dengan baik dan mengonsmsi suplemen makanan yang manfaatnya telah terbukti.

Apa contoh suplemen itu? Madu, misalnya. Selain banyak penelitian ilmiah yang membuktikan, jauh-jauh hari Injil dan Al-Quran telah menginformasikannya. Beberapa jenis madu mengandung bakteri baik berupa viable lactobacilli (6 spesies) dan bifidobacteria (4 spesies), untuk membantu pencernaan. Madu juga mengandung karbohidrat kompleks yang merupakan prebiotik, yang dapat memacu pertumbuhan bakteri baik pada usus, serta beberapa jenis enzim yang dapat membantu pencernaan.

Kali ini, madu yang kami tawarkan berbeda dari yang dikenal selama ini. Ini adalah madu khusus dengan merek Madu Bima 99, yang manfaatnya lebih tinggi dan warnanya hitam. Madu Bima 99 ini berasa pahit karena diproduksi lebah Apis mellifera, yang mengonsumsi nektar kuncup pohon-pohon pahit, seperti pelawan, paitan, kaliandra, dan mahoni. Dan dari dulu tanaman-tanaman ini sudah digunakan orang sebagai bahan obat-obatan untuk mengatasi berbagai penyakit.

Kini, Madu Bima 99 itu telah bisa Anda dapatkan di apotek, toko obat, dan outlet-outlet lainnya di kota Anda. Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa mengunjungi @madubima99 dan www.facebook.com/Madu Bima 99. Untuk delivery order silakan hubungi PIN:326C39DB atau SMS 0881-220-1056.

Post Author: Bella Nugraha